Dorongan DPR ke Industri Otomotif: TKDN dan SNI Bukan Sekadar Formalitas, Tapi Kunci Kemandirian
Pada pagi Jumat, 10 April 2026, suasana di kawasan kawasan industri Cikarang terasa berbeda. Bukan hanya suara mesin yang mendominasi, tapi juga percakapan serius antara regulator dan pelaku manufacturing industry mengenai masa depan otomotif Indonesia. Ketua Komisi VII DPR RI, Saleh Pertaonan Dulay, turun langsung ke fasilitas produksi QJMotor, bukan untuk sekadar kunjungan simbolis, melainkan untuk menegaskan satu pesan tegas: ketergantungan pada komponen impor harus mulai dikurangi.
Saleh menekankan bahwa pasar domestik tidak lagi cukup menjadi alasan utama investasi masuk. Setiap pabrik yang beroperasi di Indonesia harus memberi nilai tambah nyata, terutama melalui peningkatan domestic component level (TKDN). Angka ini bukan sekadar target administratif, tapi fondasi bagi industri yang mandiri dan berkelanjutan. Tanpa TKDN yang kuat, Indonesia akan selamanya jadi pusat perakitan, bukan pusat inovasi.
Dalam kunjungan kerja ini, DPR membuka ruang dialog intensif dengan pelaku industri. Beberapa isu strategis mencuat: bagaimana memperkuat rantai pasok lokal, mendorong investasi baru yang berkualitas, dan menaikkan manufacturing standards hingga bisa bersaing di level global. Ini bukan sekadar wacana, tapi panggilan untuk aksi nyata. Pemerintah dan swasta diminta bekerja dalam irama yang sama.
Tak ketinggalan, Wakil Ketua Komisi VII, Evita Nursanty, menyoroti pentingnya sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI). Menurutnya, SNI bukan hambatan birokrasi, melainkan consumer protection dan jaminan kualitas. Motor atau mobil dengan komponen SNI berarti telah melewati uji ketat—lebih aman, lebih tahan lama, dan lebih bisa dipercaya. Dalam industri yang mulai ramai dengan kendaraan listrik dan merek baru, kepercayaan konsumen adalah aset yang tak ternilai.
Dorongan dari DPR ini bukan sekadar retorika politik. Ini sinyal kuat bahwa Indonesia ingin keluar dari posisi sebagai pasar konsumen dan mulai menjadi pemain utama di industri otomotif global. Tantangannya besar: membangun ekosistem lokal yang kuat, melatih tenaga kerja terampil, dan menarik investasi yang benar-benar ingin berakar di sini. Namun, langkah pertama—kesepakatan soal arah—tampaknya mulai terbentuk, langsung dari lantai pabrik.
Akhirnya! Selama ini kita cuma jadi pasar. Mobil impor masuk, dirakit, lalu dijual mahal. added value Nilai tambah untuk rakyat kecil? Nol besar. Semoga TKDN ini benar-benar dijalankan, bukan sekadar angka di kertas.
Saya beli motor listrik bulan lalu, dan ada stiker SNI certification sertifikasi SNI. Awalnya saya cuek, tapi setelah dibaca, ternyata itu penting banget buat keamanan. Kalau semua komponen lokal wajib bersertifikat, saya lebih tenang.
Di kampung saya, banyak bengkel kecil yang bisa bikin komponen, tapi nggak pernah diajak masuk rantai pasok pabrikan besar. Apa karena birokrasi terlalu ribet atau karena quality standards standar kualitas belum cukup? Harusnya ada pelatihan juga buat UMKM.
Saya dukung, tapi hati-hati dengan 'greenwashing' industri. Banyak yang bilang 'lokal 60%' padahal cuma stiker plastik dan assembly labor tenaga rakit yang lokal. Transparansi TKDN harus diawasi ketat, jangan sampai jadi alat pembenaran impor komponen kunci.
Faktanya, baterai dan motor listrik masih 90% impor. Kalau mau TKDN naik, pemerintah harus berani kasih insentif buat pabrik baterai dalam negeri. Insentif pajak, kawasan khusus, atau R&D funding dana riset—itu yang butuh keberanian politik.
Jadi ingat waktu beli mobil, disuruh bayar 'biaya komponen lokal'... padahal semua aslinya dari luar. Ironi namanya. Semoga kali ini bukan empty slogan slogan kosong lagi.
Saya di bidang rantai pasok. Sudah 3 tahun coba masuk vendor otomotif, tapi syaratnya sertifikasi, quality control kontrol kualitas, dan pelacakan sangat ketat. Bagus sih, tapi UMKM butuh masa transisi. Jangan langsung digas pol.
DPR mulai sentuh isu strategis, bagus. Tapi jangan lupa, industrial policy kebijakan industri harus koheren. Saat dorong TKDN, jangan malah tarik insentif fiskal untuk manufaktur. Konsistensi itu kunci.